Tuesday, October 30, 2012

Gejala, Tips Perawatan dan Pengobatan Dermatitis Atopik

 photo gaptek-shanty-merah-468.gif

Dermatitis atopik adalah peradangan pada kulit yang lebih sering muncul pada bayi dan anak kurang dari 12 tahun, dimana tanda dan gejalanya sangat khas yaitu pemerahan pada kulit yang disertai gatal dan nyeri kadang-kadang bengkak, sifatnya kronis/ menahun. Penyakit ini dialami oleh sekitar 10-20% anak.

Resiko seorang bayi atau anak menderita dermatitis atopik antara lain dipengaruhi oleh :
- Salah satu atau kedua orang tuanya menderita alergi atau dermatitis
- Memiliki jenis kulit kering atau sensitif
- Faktor lingkungan, seperti  bahan kimia industri, makanan olahan atau benda asing lainnya.

Dermatitis Atopik lebih sering muncul di wajah, siku, lutut, tangan dan bagian tubuh lainnya.

Faktor-Faktor Pencetus Dermatitis Atopik :
- Makanan
Berdasarkan hasil Double Blind Placebo Controlled Food Challenge (DBPCFC), hampir 40% bayi dan anak dengan Dermatitis Atopik  sedang dan berat mempunyai riwayat alergi terhadap makanan.
- Alergen hirup
Dermatitis Atopik bisa diakibatkan oleh alergen hirup seperti debu rumah, bulu binatang peliharaan, jamur atau ragweed di negara-negara dengan 4 musim.
- Infeksi kulit
Penderita dengan Dermatitis Atopik mempunyai kemungkinan disertai infeksi kulit oleh kuman Staphylococcus aureus, virus dan jamur. Stafilokokus dapat ditemukan pada 90% lesi penderita Dermatitis Atopik. Akibat infeksi kuman Stafilokokus akan dilepaskan sejumlah toksin yang bekerja sebagai superantigen, mengaktifkan makrofag dan limfosit T, yang selanjutnya melepaskan histamin. Oleh karena itu penderita DA dan disertai infeksi harus diberikan kombinasi antibiotika terhadap kuman stafilokokus dan steroid topikal.

Tips Untuk Bayi dan Anak Penderita Dermatitis Atopik :
  • Gunakan sabun bayi atau pembersih yang mengandung pelembab/ lunak, tidak berwarna dan tidak mengandung pewangi. Contoh : Sebamed baby bubble bath, Sebamed baby cleansing bar.
  • Pakaikan pelembab kulit untuk menjaga hidrasi, yaitu pelembab dengan dasar lanolin, krim air dalam minyak atau urea 10% dalam krim. Contoh : Tendercare Oriflame, Sebamed baby lotion.
  • Mandikan anak selama 15-20 menit 2 kali sehari, jangan gunakan air panas dan jangan menambahkan minyak karena akan mempengaruhi penetrasi air.
  • Hindari faktor pencetus/ alergen kambuhnya Dermatitis Atopik
  • Hindari pemakaian baju iritatif dari wol.
  • Hindari anak berkeringat berlebihan karena dapat mengiritasi kulit, segera lap keringat dengan mengunakan handuk basah yang bersih.
  • Hindari anak dari stres sosial dan emosional.
  • Perhatikan susu formula yang diberikan. Susu tanpa label hipoalergenik dapat membuat bayi alergi terhadap kandungan proteinnya.
  • Coba hentikan susu formula yang biasa diberikan selama 7 hingga 10 hari, ganti dengan susu formula yang hipo alergenik seperti Nan-HA, Isomil, Nutrilon Soya.
  • Hindari memberikan makanan mengandung telur, seafood, susu sapi pada bayi dan anak.
  • Untuk ibu menyusui perhatikan makanan yang dikonsumsi yang berpotensial menimbulkan alergi seperti telur, seafood, ikan, kacang tanah, susu sapi, terigu.
  • Periksakan kondisi anak ke dokter. Untuk pengobatan Dermatitis Atopik biasanya dokter akan memberikan kortikosteroid topikal ( salep )
  • Dengan pengobatan topikal yang baik dapat dicegah penggunaan pengobatan sistemik. Karena penyakit Dermatitis Atopik adalah kronik dan residif, maka untuk pemakaian kortikosteroid topikal maupun sistemik jangka panjang sebaiknya diamati efek samping yang mungkin terjadi. Bila dengan kortikosteroid topikal tidak cukup untuk menghilangkan rasa gatal, biasanya dokter menambahkan krim yang mengandung mentol, fenol, lidokain, atau asam salisilat. Bila dengan pengobatan topikal ini tetap tidak ada perubahan maka dapat dipertimbangkan pemberian pengobatan sistemik
  • Penggunaan kortikosteroid topikal golongan kuat sebaiknya berhati-hati dan tidak digunakan di daerah muka. Apabila dermatitis telah teratasi maka secepatnya pengobatan dialihkan pada penggunaan kortikosteroid golongan lemah atau krim pelembab. Untuk daerah muka sebaiknya digunakan krim hidrokortison 1%.
 photo belajarinternetdinsan.gif

1 komentar:

Unknown said...

Bagi pria, impoten atau masalah disfungsi ereksi menjadi mimpi buruk saat bercinta. Namun wanita pun sebaiknya jangan langsung meninggalkan pasangan yang mengalami kesulitan seperti itu. Jadi coba simak tips menghadapi pria impoten di atas ranjang seperti yang dilansir dari Cosmopolitan berikut ini.

Bukan salah Anda
Pada awalnya, wanita merasa bersalah ketika tahu bahwa pasangannya tidak terangsang. Padahal masalah disfungsi ereksi ini bukan sepenuhnya salah wanita. Sebab kondisi kesehatan pria yang sebenarnya menjadi penyebab impotensi.

Memahami pria
Pria yang menderita impotensi cenderung enggan bercinta dan membicarakan masalah tersebut pada pasangannya. Jadi wanita pun sebaiknya tidak menjadikannya bahan gurauan. Sebaliknya, pahami posisi pria dan jangan anggap sepele masalah ini.

Mencari penyebab
Ada banyak faktor yang bisa memicu disfungsi ereksi. Misalnya stres, kondisi fisik yang lemah, atau pengaruh obat-obatan. Cari tahu penyebab yang sebenarnya dari impotensi pria untuk mengatasinya dengan segera.

Andrologi | Mengatasi ejakulasi dini

Infeksi saluran kemih | Gangguan fungsi seksual

Klik chat | Free chat

Post a Comment